Senin, 02 Agustus 2010

PERMAINAN ANAK; dahulu, kini, mendatang..


Sebuah perkampungan di sudut selatan kota Jakarta, Mampang Prapatan. Hampir lima tahun saya hijrah dari kampung kelahiran saya ini untuk meraih gelar sarjana. Ibu saya pernah bercerita, konon, kedua orang tua saya sudah fall in love pada lokasi kampung ini sejak mereka pertama kali mencari rumah kontrakan untuk tempat tinggal keluarga kami. Dan akhirnya di sebuah kontrakan kecil keluarga ini menuai sedikit demi sedikit kenangan di kampung ini. Jika dilihat dari lokasi, kampung ini bisa dikatakan sangat strategis. Bukan terletak di pinggiran ibukota, melainkan sangat dekat dengan jantung kota Jakarta. Rasanya alasan inilah yang membuat kedua orang tua saya akhirnya memilih kampung ini sebagai tempat tinggal kami. Ya, nyatanya kami memang termasuk kategori keluarga pendatang di kampung ini. Ayah saya seorang keturunan Semarang, Jawa Tengah. Sedangkan Ibu saya kelahiran Ngawi, Jawa Timur. Tak ada salahnya jika kemudian saya menyebut diri saya sebagai anak keturunan Timur Tengah, begini saya sering memperkenalkan diri kepada teman-teman yang baru berkenalan dengan saya. Banyak yang tidak percaya ketika mencocokkan face Timur Tengah ala saya dengan Timur Tengah beneran, sangat wajar saya rasa... Akan aneh jika ada yang kemudian percaya pada joke saya itu.

Sore ini sepulang beraktivitas, sengaja saya menyempatkan diri untuk sedikit ber-napak tilas jejak masa kecil saya dulu. Saya masih ingat benar, dahulu, ada sebuah lapangan kecil di dekat rumah sebagai tempat saya dan sahabat-sahabat kecil saya bercengkrama menghabiskan waktu kami untuk bermain sepulang sekolah. Permainan-permainan seperti bentengan, tapak gunung, galasin, ular naga, petak umpet, petak jongkok dan aneka permainan tradisional lainnya yang bersifat kolosal karena setidaknya membutuhkan lebih dari 3 atau 5 orang agar lebih terasa greget permainannya. Begitu pun permainan-permainan yg tidak membutuhkan arena bermain yang luas, dan kebanyakan dimainkan oleh anak-anak perempuan, seperti permainan bola bekel, congklak, dan yang lainnya.

Nyatanya saat ini yang saya temukan, bad news friends.. jejak lapangan tempat kami dahulu bermain kini sudah hilang tak berbekas. Hanya deretan petak-petak rumah kontrakan yang kini terlihat. SESAK, kesan pertama yang muncul saat saya coba menggambarkan kampung ini dalam satu kata. Pantas sejak tadi saya tak banyak melihat lari-lari kecil anak-anak yang harusnya lumrah di sebuah lokasi perkampungan macam ini. Dan saya banyak temui rumah-rumah yang dikerubungi anak-anak usia bermain. Mereka sibuk mengendalikan sebuah alat di tangan mereka, yang ternyata setelah saya cari tahu, benda hitam kecil itu bernama joy stick. Atau di sudut lain kampung ini, saya juga lihat sebuah rumah kaca bertuliskan "warnet" alias warung internet yang juga tak kalah ramainya dengan rumah joy stick tadi. Hmmm...ternyata saat ini orientasi permainan anak sudah sangat berubah ya?.

Entah ini bisa dikatakan sebagai sebuah kemajuan atau justru kemunduran? Sulit rasanya mendefinisikan temuan saya sore ini, pikir saya. Di satu sisi, mungkin ini adalah sebuah kemajuan, anak-anak masa kini telah mengenal teknologi tingkat tinggi, tak seperti saya dulu. Pertama kali saya mengenal sebuah benda bernama komputer saat duduk di kelas 3 SMP. Pikir saya juga, pastinya anak-anak sekarang cerdas-cerdas. Karena sudah kenal dunia internet, dimana segala informasi dari seluruh penjuru dunia ada di sana. Mungkin juga ini adalah efek yang muncul ketika anak-anak kehabisan tempat bermain terbuka, sesuai dengan temuan saya tadi, yang akhirnya mengarahkan mereka pada benda-benda berteknologi tinggi itu. Namun efek yang muncul dari keasyikan anak-anak pada benda-benda berteknologi tinggi itu adalah mereka menjadi sangat asyik dengan dunia mereka sendiri.

Efek yang dihasilkan dari permainan-permainan masa kecil saya dulu sangat berbeda, yang menuntut saya untuk juga peduli pada keberadaan teman-teman saya yang terlibat pada permainan. Efek yang muncul kemudian adalah anak-anak yang besar melalui pendidikan permainan-permainan tradisional adalah kecerdasan sosial yang mereka dapat sebagai sebuah konsekuensi logis.

Tak jarang dari anak-anak sekarang yang hanya memiliki sedikit Jaringan Permainan, saya menyebutnya demikian. Berdasarkan pengalaman masa kecil saya tentunya, saat saya kecil dulu, saya punya banyak teman. Bahkan dari kampung sebelah. Bisaanya kami bertemu saat hari libur, dimana di pagi hari kami bisaanya diizinkan untuk bermain tidak seperti hari-hari bisaanya. Bermain sambil olahraga berjalan kaki keliling sampai ke kampung tetangga. Di sinilah kami bisaanya bertemu. Dan tak jarang akhirnya kami bermain bersama, bahkan permainan antar kampung. Maka tak heran jika akhirnya jaringan permainan kami luas.

Jika kemudian kita melihat dari sisi teori, ada satu kecemasan yang saya khawatirkan akan muncul di masa mendatang. Kaitannya dengan konsep IQ dan EQ yang belakangan ini banyak diperbincangkan masyarakat kita. Permainan-permainan masa kini, baik yang bersifat berteknologi tinggi seperti game komputer yang menuntut anak untuk bisa berpikir strategis mengalahkan si komputer, atau permainan-permainan seperti sudoku, scrable, dan rubik. Saya yakin permainan-permainan tersebut akan membantu perkembangan IQ anak-anak.

Namun tidak dengan konsep Emotional Quotient (EQ) yang menurut E.L. Thorndike (1920) mengatakan bahwa konsep EQ bermula dari konsep "kecerdasan sosial". Thorndike mendefinsikan kecerdasan sosial sebagai kemampuan memahami dan mengatur lelaki dan perempuan, anak lelaki atau anak perempuan, untuk bertindak secara bijak. Gardner memasukan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal dalam teori kecerdasan. Kedua kecerdasan itu dimasukan dalam kecerdasan sosial. Dia mendefinisikannya sebagai berikut:

1. Kecerdasan Interpersonal adalah kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana bekerja secara kooperatif dengan mereka. Politikus, guru, salesman, dokter, dan pemimpin religius yang sukses adalah seseorang yang mempunyai kecerdasan interpersonal yang tinggi.
2. Kecerdasan Intrapersonal adalah kemampuan untuk memahami diri sendiri. Inilah kapasitas untuk membentuk model diri sendiri yang akurat dan sebenarnya dan mampu menggunakan model tersebut untuk dijalankan secara efektif dalam kehidupan.

Kecerdasan emosi atau EQ meliputi kecerdasan sosial dan menekankan pada pengaruh emosi pada kemampuan melihat situasi secara objektif dan memahami diri sendiri dan orang lain. Inilah kemampuan untuk merasakan, memahami, dan secara efektif menggunakan kekuatan emosi, disalurkan sebagai sumber energi, kreativitas, dan pengaruh dalam kehidupan kita sehari-hari, di tempat kerja atau dalam berhubungan dengan orang lain. Emosi sendiri adalah sumber energi dari manusia, aspirasi dan dorongan, membangkitkan perasaan terdalam dan tujuan hidup, dan mentransformasikannya dari apa yang kita pikirkan menuju menghargai hidup kita. Sesungguhnya kesuksesan kita dalam hidup bukan hanya disebabkan oleh kecerdasan tapi ada kualitas-kualitas yang lainnya seperti kepercayaan, integritas, otensitas, kreativitas, kejujuran, dan keuletan juga sangat penting. Kecerdasan yang lain inilah yang disebut dengan kecerdasan emosi .

Namun saya senantiasa berharap, semoga ini hanya pikiran jelek saya. Karena saya yakin, setiap orang tua modern masa kini sudah berpikir sangat maju dan visioner. Mereka tentunya tak ingin anak-anak mereka menjadi pribadi yang hanya memiliki IQ tinggi, akan tetapi juga memiliki EQ yang baik. Salah satu jalan yang bisa kita tempuh adalah melalui pengenalan anak-anak dengan permainan-permainan yang dapat melatih kecerdasan sosial. Dan satu efek positif yang tentunya menjadi sebuah konsekuensi logis ketika anak-anak kita tidak asing dengan permainan tradisional adalah anak-anak dapat mengenal mengenai kebudayaan local mereka. Karena pada dasarnaya permainan tradisional lahir dari hasil kreativitas yang bersumber pada nilai-nilai kearifan lokal. Dalam bahasa Van Peursen, hal itu merupakan sebuah manifestasi kebudayaan setiap orang dan kelompok yang mengarah pada segala perbuatan manusia, seperti cara menghayati kehidupan. Begitu penting permainan tradisional sehingga pemerintah melalui Dinas Kebudayaan memasukkannya sebagai salah satu bidang garapan. Hal ini merupakan upaya untuk mengobservasi, mendata, merawat, dan melestarikan nilai-nilai budaya kita. Dibutuhkan upaya maksimal baik dari jajaran pemerintah melalui dinas terkait maupun masyarakat sebagai pelaksana dalam melestarikan produk budaya permainan tradisional yang kaya akan nilai-nilai luhur dan pesan moral. Tanpa usaha seperti itu, bersiaplah anak-anak generasi kita sekarang dan mendatang menjadi pribadi yang tidak memiliki identitas kebudayaan.

Mari Ayah dan Bunda, kita didik anak-anak kita secara bijak....

Senin, 31 Mei 2010

Roda Kehidupan


Tulisan kali ini hanya copy paste sebenarnya..
Tapi saya suka banget sama tulisan ini, filosofis-filosofis gimanaaaaa gitu.. ^^

Pertama kali saya baca tulisan ini saat saya berada di semester awal kuliah, sekitar 6 tahun yang lalu. Sebuah artikel yang saya temukan di internet. Saking sukanya sama tulisan ini, saya sampai sempat memberikan tulisan ini dengan berbagai kemasan ke teman2 saya waktu itu.. Saya rangkai jadi sebuah kemasan kartu ucapan selamat ulang tahun..
Harapan saya, semoga tulisan ini bisa menjadi bahan masukan yang bagus di hari spesial teman2 saya kala itu.

Begini ceritanya...

* * *
Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia, tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas.
Kini sang roda pun bingung. Kemana kah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu?

Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah di tinggalkannya. Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu diperhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan di temukannya jari-jari yang hilang itu.

Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei….semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi jalan itu dengan laju yang kencang, semua hal tadi cuma berbentuk titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa. Namun kini, semuanya tampak lebih indah.

Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka zkini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya.

Bunga-bunga pun tampak lebih indah. Harum dan semerbaknya, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang baru terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar. Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalanannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan genderang yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang Roda.

Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu yang kerap mampir di tubuh sang Roda. Semua batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.

***
Sobat, begitulah hidup. Kita, seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan, ada saat-saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil, yang sebetulnya menyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.

Hati kita, kadang terlalu penuh dengan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni.

Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Sobat, coba, susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita.

Adakah kebahagiaan yang terlupakan? Adakah keindahan yang tersembunyi dan alpa kita nikmati? Kenanglah ingatan-ingatan lalu. Susuri dengan perlahan. Temukan keindahan itu!!

* * *

teruntuk sahabat2 saat awal kuliah dulu,
Yudho, Wimpi, Agus. Ucup juga

Minggu, 30 Mei 2010

belajar Grafologi.. ^^














G r a f o l o g i . .


Hmm… mungkin kata “grafologi” ini masih terasa asing di sebagian besar telinga masyarakat kita..
Alhamdulillah pekan lalu, tepatnya tanggal 22Mei 2010, saya berkesempatan mengikuti sebuah seminar sehari bertema “Menggali Potensi Anak melalui Tulisan Anak”. Karena kebaikan hati dari seorang teman, alhamdulillah saya bisa mengikuti seminar ini secara free of charge, alias gratis.. (say big thanks to Mas R**i) ^^
**Buat temen-temen yang punya info2 seminar yang menarik, kasih tau sy yaaa… apalagi kalo gratis, waaa.. seneng pisan euyy..**

Hehe.. oke! Sekarang kembali kita bicara tentang Grafologi. Pada awal menerima ajakan seorang teman baik hati tadi, saya kemudian browsing2, tanya2 ke om Google tentang apa itu Grafologi. Yaaa.. pada akhirnya dengan sedikit pengetahuan tentang grafologi yang saya dapat dari Om Google, berangkatlah saya ke acara seminar itu bersama 3 orang teman lainnya, termasuk teman baik hati tadi.. ^^

Seminar ini berlangsung selama satu hari penuh, dari jam 8 pagi sampai hampir jam 17.30 sore.. dan alhamdulillah, setelah mengikuti seminar ini, banyak hal yang saya dapat, dan pada akhirnya memotivasi saya untuk lebih banyak belajar dan mendalami lagi tentang Grafologi.

* * *
Grafologi bisa digunakan untuk menginterpretasi karakter dan kepribadian seseorang melalui tulisan tangan. Pakar Grafologi, Achsinfina Handayani (Sinta), mengatakan tulisan tangan sebenarnya adalah tulisan dari otak manusia yang merupakan gambaran dari kepribadian setiap individu.
Grafologi, kata Sinta, dapat dijadikan sebagai alat komunikasi nonverbal yang berasal dari dalam diri seseorang. "Diharapkan dapat memberikan gambaran detail mengenai kepribadian untuk membentuk teamwork atau hubungan personal," katanya. Ia mengatakan, pikiran bawah sadar saling berhubungan dengan tulisan tangan yang dihasilkan.

Selain mengidentifikasi karakter dan kepribadian, grafologi juga memberikan motivasi dan dorongan yang ada dalam diri, memberikan gambaran keadaan emosi, mental, hingga kecenderungan intelektual. Misalnya dari pengenalan bentuk huruf yang terbagi menjadi empat yaitu Garland, Arcade, Angular, dan Tread.


Orang dengan bentuk tulisan Garland mengindikasikan seseorang yang ramah, mampu bersosialisasi, mampu beradaptasi, mudah dipengaruhi, followers, kadang lemah dan sangat stereotypically. Bentuk tulisannya agak meruncing.


Tulisan bentuk Arcade cenderung didominasi bentuk bulat. Ada kecenderungan belum dewasa, independen, perhatian, berhati-hati, kreatif, kesombongan, dan manipulasi.


Untuk bentuk tulisan Angular didominasi bentuk segitiga. Kecenderungannya orang tersebut memiliki ketegasan, agresif, kekuatan, materialistis, ambisi. Selain itu, ada kecenderungan kasar, keegoisan, dan serakah.


Sedangkan bentuk Tread, biasanya dibarengi dengan kecepatan menulis. Kecenderungannya adaptable, charming, talented, sensitif, impressive, dan opportunistic. Bentuk tulisan ini dinilainya tidak sehat. Tidak melengkapi keseluruhan bentuk latin.


Keempat tulisan itu masih bisa berubah, terutama pada anak-anak. Namun, tidak semua faktor dapat diungkap melalui tulisan tangan. Grafologi tidak bisa dipakai untuk melihat gender, usia atau karakter fisik, masa depan, dan SARA. Oleh karena itu sangat dimungkinkan adanya terap grafologi, terutama bagi usia anak-anak.

* * *

Nah, pasca pelatihan grafologi ini, sy mencoba merayu bebrapa orang teman saya agar mau merelakan tulisan tangannya sebagai bahan percobaan saya. Alhamdulillah ada beberapa teman yang berkenan.
Hmm… teringat pada perkataan Bu Sinta, seorang yang minat pada dunia grafologi, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencintai tulisan tangan.. dengan beragam bentuknya.. YA, ini dia yang sekarang sedang coba saya lakukan pada diri saya. Mulai menyukai beragam jenis dan bentuk tulisan tangan.. Bagi temen-temen yang mau jadi pasien saya, saya buka praktek gratis buat konsultasi.. Silahkan kirim scan Tulisan tangan anda ke suciputria@yahoo.co.id. insyaAlloh akan segera saya follow up. Jangan lupa konfirmasi ya kalo sudah dikirim.. MAkasiiiiii... ^^

Sabtu, 29 Mei 2010

kiriman kacamata (soul)

kisah ini mengingatkan kembali apa yang pernah dikatakan pemikir Thomas Merton, filsuf Amerika Serikat…

“Tuhan bisa melakukan berbagai perkara penting melalui cara sederhana dan tak terduga.”

Sore itu, Kakek merampungkan pekerjaannya membuat lemari kayu yang esok akan dikirim ke panti asuhan di Kalimantan yang terkena banjir, bersama dengan berbagai perkakas seperti ranhang, kursi roda, obat-obatan, selimut, sebagai sumbangan dari warga lingkungan kami. Namun sehari kemudian ia panik kehilangan kacamata. Selidik punya selidik, ia baru ingat menaruh kacamata tersebut.


“Duh, Gusti. Saya ‘kan sudah menghabiskan tenaga dan uang untuk menolong sesama. Kenapa malah jadi begini?,” gerutu Kakek, seolah menyalahkan Tuhan.

Selang dua bulan kemudian, pengasuh panti asuhan korban bankir tersebut, bertandang ke lingkungan kami untuk menyatakan terimakasih atas bantuan yang diterimanya. “Secara khusus saya berterimakasih atas kiriman kacamata. Maklum, banjir bandang itu memporakporandakan rumah dan seisinya termasuk kacamata saya. Sewjak kehilangan kacamata, saya didera sakit kepala berkepanjangan. Kami sekeluarga terus berdoa agar diberi rejeki untuk membeli barang ittu kembali. Eh, kebetulan ada yang mengirimkan. Sungguh! begitu begitu saya pakai, pas, dan cocok benar. Sepertinya ini khusus dibikin untuk saya. Terima kasih Tuhan. Doa kami terjawab, ” ujarnya terbata-bata.

Tentu saja teman-teman bingung, lantaran tidak ada yang merasa menyumbang kacamata. Namun Kakek yang duduk di pojok tak kuasa menahan isak. Terbersit penyesalan, mengapa dulu menyalahkan Tuhan. “Mungkin ketika Tuhan mengunjungiku minta kacamata itu, aku tidak berada di rumah,” kata Kakek dalam hati. Namun ia bersyukur, Tuhan memakainya untuk membahagiakan orang lain dengan cara tak terduga yang begitu indah.

(Sumber : Intisari edisi Januari 2009)


Abis terima sms dari seseorang yang sangat special, jadi pengen ber-mellow-mellow-ria..

Let’s sing…
First song…

IBU, ( Iwan Fals )

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh
Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan
Walau tapak kaki penuh darah penuh nanah

Seperti udara kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…
Ibu
Ibu

Ingin kudekap dan menangis dipangkuanmu
Sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu

Lalu do’a-do’a baluri sekujur tubuhku
Dengan apa membalas…
Ibu
Ibu

Next song.. a song from my favorite singer, Ebiet G Ade..



TITIP RINDU BUAT AYAH, ( Ebiet G Ade )


Di matamu masih tersimpan
Selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat
Di keningmu
Kau nampak tua dan lelah
Keringat mengucur deras
Namun kau tetap tabah ehemm
Meski nafasmu kadang tersengal
Memikul beban yang makin sarat
Kau tetap bertahan
reff
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari
Kini kurus dan terbungkuk ehemm
Namun semangat tak pernah pudar
Meski langkahmu kadang gemetar
Kau tetap setia
Ayah dalam hening sepi kurindu
Untuk menuai padi milik kita

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan

Anakmu sekarang banyak menanggung beban

*dedicated to my lovely parents.. i love you both.. always and always..*

Senin, 19 April 2010

SEKAT, perannya?

Membayangkan sebuah bangunan, yang dibangun tanpa adanya sekat..
Bangunan yang hanya terdiri oleh sebuah ruangan besar, tanpa ada sekat, s a t u p u n …..

Segala aktivitas harian dilakukan didalamnya. Ibadah, mencuci, memasak, tidur, makan, berganti pakaian, bersenda gurau dengan keluarga, rapat keluarga, menonton televisi, mengaji, bersih-bersih, menyetrika, mandi, belajar , aktivitas biologis, dan banyak kegiatan lainnya tentu..

Terbayangkah ketika semua aktivitas tersebut kita lakukan di ruang tak bersekat???
Ketika rumah kita sedang banyak menerima kunjungan sanak saudara, seketika kita mendapat panggilan alam (a.k.a salah satu aktivitas biologis yang berkaitan dengan buang-membuang)..

PERGI KE TOILET, mungkin itu menjadi tindakan pilihan utama, ketika ada toilet. Atau paling tidak jika rumah kita berada di lingkungan toilet umum atau bahkan toilet mengapung sekalipun.
Sudahkah terbayang apa yang akan kita lakukan jika kita berada di rumah tak bersekat itu?
MALU, mungkin perasaan ini yang akan muncul sebagai konsekuensi logis, utamanya bagi kultur masyarakat timur.

Saat rumah sedang banyak menerima kunjungan tetamu, atau bias kita bayangkan saja tidak banyak tamu yang dating misalnya, hanya seorang saja tamu yang sedang berada di rumah kita. Saya rasa tetap perasaan malu menjadi konsekuensi logis yang sangat mungkin muncul.
Hmmm….

Ternyata sekat itu penting ya??