Senin, 19 April 2010

SEKAT, perannya?

Membayangkan sebuah bangunan, yang dibangun tanpa adanya sekat..
Bangunan yang hanya terdiri oleh sebuah ruangan besar, tanpa ada sekat, s a t u p u n …..

Segala aktivitas harian dilakukan didalamnya. Ibadah, mencuci, memasak, tidur, makan, berganti pakaian, bersenda gurau dengan keluarga, rapat keluarga, menonton televisi, mengaji, bersih-bersih, menyetrika, mandi, belajar , aktivitas biologis, dan banyak kegiatan lainnya tentu..

Terbayangkah ketika semua aktivitas tersebut kita lakukan di ruang tak bersekat???
Ketika rumah kita sedang banyak menerima kunjungan sanak saudara, seketika kita mendapat panggilan alam (a.k.a salah satu aktivitas biologis yang berkaitan dengan buang-membuang)..

PERGI KE TOILET, mungkin itu menjadi tindakan pilihan utama, ketika ada toilet. Atau paling tidak jika rumah kita berada di lingkungan toilet umum atau bahkan toilet mengapung sekalipun.
Sudahkah terbayang apa yang akan kita lakukan jika kita berada di rumah tak bersekat itu?
MALU, mungkin perasaan ini yang akan muncul sebagai konsekuensi logis, utamanya bagi kultur masyarakat timur.

Saat rumah sedang banyak menerima kunjungan tetamu, atau bias kita bayangkan saja tidak banyak tamu yang dating misalnya, hanya seorang saja tamu yang sedang berada di rumah kita. Saya rasa tetap perasaan malu menjadi konsekuensi logis yang sangat mungkin muncul.
Hmmm….

Ternyata sekat itu penting ya??


Tidak ada komentar:

Posting Komentar